Thursday, 17 July 2014

Hukum Selamatan Orang Meninggal Dalam Islam

Hukum Selamatan Orang Meninggal Dalam Islam

Hukum Selamatan Orang Meninggal Dalam Islam
Assalamu'alaikum. . .

Selamat malam sobat islami, mengawali postingan kali ini, saya mau share tentang pertanyaan yang sering diajukan oleh masyarakat kebanyakan yang belum faham tentang hukum-hukum Islam, salah satunya ialah "Bagaimana hukumnya melakukan selametan pada hari ketiga, ketujuh, dan seterusnya setelah meninggalnya kerabat mereka".

Mungkin adat ini sudah sering di lakukan oleh kebanyakan masyarakat luas, termasuk di daerah saya (Banyuwangi) juga banyak yang melakukannya.

Apakah hal tersebut berlaku pada masa Rosululloh ?
Untuk lebih jelasnya, mari kita simak bersama uraian berikut.

Rosululloh SAW ditanya tentang hewan yang disembelih dan di masak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan kepada para penggali kubur, dan tentang yang di lakukan pada hari ketiga dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang di lakukan pada hari ketujuh, serta yang di lakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan kerumah-rumah wanita yang menghadiri prosesi ta'ziah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melakukan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan pahala Akhirat, maka bagaimana hukumnya ? Apakah harta yang telah ditasarufkan atas keinginan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah, walaupun sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si Mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti "Wajib", bagaimanakah hukumnya ?

"Beliau menjawab" : "Semua yang dilakukan sebagaimana yang di tanyakan diatas termasuk Bid'ah yang tercela, tapi tidak sampai Haram (namun Makruh) kecuali jika prosesi penghormatan pada mayit itu bertujuan untuk "Meratapi" atau memuji secara berlebihan, dan tatkala melakukan prosesi tersebut guna menangkal "ocehan" orang-orang bodoh dan memperbincangkan dirinya disebabkan tidak mengikuti, maka diharapkan ia mendapatkan pahala, berdasarkan perintah Nabi pada seseorang yang batal Shalatnya (karena hadats) untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah) ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

Tirkah tidak boleh di ambil/dikurangi sekira terdapat ahli waris yang Mahjur'Alaih (orang yang tercegah dari pentasarufan seperti anak kecil dan orang gila) atau ahli waris sudah pandai-pandai, namun sebagian ahli waris tidak merestui prosesi tersebut diambilkan dari tirkah. (Fatawi Kubro, Juz 2, Hal:7)

Pertanyaan : Apa hukum penyuguhan makanan dari pihak keluarga mayit pada orang-orang yang Ta'ziah di hari wafat atau selainya dan hal itu dilakukan bertujuan sedekah atas nama mayit. Apakah keluarga mayit mendapatkan pahala dari sedekahnya tersebut ?

Jawaban : Penyuguhan makanan di hari wafat atau hari ketiga dan ketujuh itu hukumnya Makruh ditinjau dari perkumpulan dan penentuan waktu, namun kemakruhan tersebut tidak sampai menghilangkan pahala sedekah. (Inganatut Tholibin, Juz 2, Hal:145)

Baca juga Artikel yang lain tentang :

No comments:

Post a Comment