Thursday, 4 September 2014

Hukum Aborsi (Menggugurkan Kandungan) Dalam Islam

Hukum Aborsi (Menggugurkan Kandungan) Dalam Islam

Pertanyaan :
Bagaimanakah hukum melakukan Aborsi dalam pandangan Islam ?

Jawaban :
Haram melakukan sesuatu yang menyebabkan terbunuhnya kandungan (aborsi) setelah janin sudah ada di dalam rahim seperti sudah menjadi segumpal darah atau daging, sekalipun belum di tiup ruh, sebagaimana yang terdapat di dala kitab Tuhfah. Imam Romli berpendapat, tidak haram jika belum ditiupkan ruh pada janin tersebut.
(Bughyah Al-Mustarsyidin, hal : 246)

Abu Ishak berfatwa : Boleh bagi Amat (hamba sahaya perempuan) minum obat untuk menggugurkan kandungannya selagi masih bentuk segumpal darah atau daging. Dan kalangan Hanafiah mendukungnya, bahkan mereka berpendapat boleh secara mutlak, sedangkan ungkapan kitab Ihya’ Ulumuddin menunjukkan haram secara mutlak.
Ulama berbeda pendapat tentang kebolehan melakukan sesuatu yang menyebabkan keluarnya (gugurnya) mani setelah berada di dalam rahim. Abu Ishak al-Mawarzi berkata : boleh mengeluarkan (menggugurkan) mani atau segumpal darah. Pendapat ini di nukil (diambil) dari Abu Hanafiyah. Perkataan “Mutlak” maksudnya baik berupa segumpal darah,segumpal daging dan keberadaannya yang sudah di tiupkan ruh padanya.
(Inganatut Tholibin, Juz 4, Hal : 130)

Wanita hamil hasil dengan suaminya kemudian disuruh ibunya untuk aborsi dengan meminum obat sehingga mengeluarkan janin baik laki-laki atau perempuan dalam keadaan mati. Apabila informasi dari dokter, bahwa obat semacam itu dapat menggugurkan kandungan, maka baginya (wanita yang hamil) wajib memerdekakan dua hamba sahaya dan dua kafarat.
(Ghoyah Talkhis, Hal : 247)

Baca Juga :

No comments:

Post a Comment