Wednesday, 10 September 2014

Hukum Menikah Beda Agama Dalam Islam

Hukum Menikah Beda Agama Dalam Islam

Hukum Menikah Beda Agama Dalam Islam, islam menikah dengan kristen, muslim menikah dengan kafir, muslim vs kristen.jpg



Bagaimanakah Hukum Menikah beda agama dalam pandangan Islam ?

Jawaban :
Pernikahan lelaki muslim dengan wanita kafir yang bukan murni ahli kitab, sepeti wanita penyembah berhala, majusi, atau salah seoranga dari kedua orang tuanya adalah kafir (penyembah berhala, majusi), sebagaimana firman Alloh SWT :
“Dan jangan kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman….”  Pelaranga dalam ayat tersebut menunjukkan keharaman.

Berbeda dengan lelaki muslim, adalah lelaki kafir. Dalam kitab “al-Kifayah” disebutkan dua pendapat tentang kebolehan wanita penyembah berhala menikah dengan lelaki ahli kitab. Kemudian haramkah wanita penyembah berhala tersebut menikah dengan lelaki sesame penyembah berhala ?
Menurut Al-Subki, semestinya hukumnya haram jika kita berpendapat bahwa mereka itu dimaksudkan dalam ayat tersebut diatas. Dan jika tidak termasuk, maka hukumya tidak halal dan tidak pula haram.

Yang dimaksud dengan wanita ahli kitab yang masih murni, adlah wanita Israel. Ia halal bagi kita sebagaimana firman Allah SWT : “Dan halal mengawini wanita-wanita yang memiliki kehormatan diantara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu…”

Yang dimaksud dengan al-Kitab, adalah Taurat dan Injil dan bukan kitab-kitab yang lain sebelumnya, seperti Kitab Nabi Syits, Nabi Idris dan Nabi Ibrahim AS. Karena kitab-kitab tersebut tidak diturunkan secara teratur sistematik bisa dipelajari ataupun dibaca. Para Nabi tersebut hanya diberi wahyu tentang pengertian-pengertianya saja, atau karena kitab-kitab tersebut hanya memuat kata-kata hikmah dan nasehat-nasehat, tidak memuat hokum-hukum syariat.

Pernikahan lelaki muslim dengan wanita Israel, jika nenek moyang wanita-wanita kafir ahli kitab tersebut memeluk agama ahli kitab sebelum adanya penyalinan, mengingat keteguhan mereka dengan agama tersebut. Begitu juga menikahi wanita bukan Israel, jika nenek moyang mereka diketahui telah masuk agama kitaby sebelum perkawinannya walaupun terjadinya pernikahan setelah adanya perubahan. Jika tidak diketahui keberadaan nenek moyangnya dalam hal beragama, maka pernikahannya tidak sah berdasarkan pendapat yang lebih tegas, dalam hal ini jika diragukan dalam kepemelukan agama kitaby.

Sah menikahi Yahudi dan Nasrani dengan syarat yang telah disebutkan perihal wanita Israel dan lainnya diatas, demikian pula dengan wanita Samiri dan Syaibah jika keduanya bersepakat denga Yahudi dan Nasrani dalam ajaran pokok agama mereka, walaupun keduanya tidak sepakat dalam hal-hal yang tidak prinsip. Jika keduanya berbeda dalam ajaran pokok agama Yahudi dan Nasrani, maka keduanya haram dinikahi. Semua perincian ini adalah sesuai dengan pendapat yang dinyatakan oleh Imam Syafi’I sebagaimana dalam Mukhtashar al-Muzani.

Bagi orang yang pindah agama, seperti orang yahudi atau penyembah berhala menjadi Nasrani atau sebaliknya, maka tidak akan diterima kecuali Islam. Hal ini karena ia telah mengakui ketidak benaran agama yang ditinggalkannya.

Disepakati, bahwa tidak sah wanita muslimah menikah dengan lelaki kafir, baik merdeka ataupun budak. Tidak sah pula wanita murtad menikah dengan siapapun. Tidak sah dengan lelaki muslim karena wania tersebut telah kafir dan tidak mengakui apapun, dan tidak sah pula menikah dengan lelaki kafir karena masih adanya ikatan Islam pada dirinya.
(Asy-Syarqowi wa Syarkhan, Juz 2, Hal : 237)

Semoga pembahasan Hukum menikah beda agama kali ini bisa bermanfaat.

No comments:

Post a Comment