Monday, 29 September 2014

Hukum Penggusuran Tanah Untuk Kepentingan Umum


Hukum Penggusuran Tanah Untuk Kepentingan Umum


penggusuran tanah, hukum penggusuran tanah, tanah di gusur untuk kepentingan umum, tanah kami digusur, pemerintah gusur tanah kami

Pertanyaan :
Bagaimanakah dalam pandangan fiqh menyikapi pemerintah yang melakukan penggusuran tersebut ?

Jawaban :
Ketika Umar R.A diangkat sebagai Khalifah dan jumlah penduduk semakin banyak, ia memperluas masjid dengan membeli rumah lalu dirobohkannya. Kemudian ia menambah perluasannya dengan merobohkan bangunan penduduk yang berada disekitar masjid yang enggan untuk menjualnya. Umar r.a kemudian memberikan harga tertentu sehingga mereka mau menerimanya. Umar r.a membangun dinding yang pendek kurang dari tinggi manusia, dan memasang lampu-lampu. Umar r.a adalah orang yang pertama kali membuat dinding untuk masjid.
     Ketika Ustman r.a diangkat sebagai kholifah, ia kemudian membeli rumah-rumah dan dipergunakan untuk memperluas masjid. Ustman r.a mengambil rumah-rumah penduduk dengan menetapkan harganya. Mereka kemudian berdemo di kediamannya. Ustman r.a kemudian berkata : “sesungguhnya kemurahankulah yang membuatku berani pada kalian, dan kalian menyetujuinya”. Kemudian Ustman r.a memerintahkan untuk memenjarakan mereka sehingga Abdulloh bin Khalid bin Asad mendiskusikannya, dan akhirnya melepaskan kembali mereka.
(Ahkamus Sulthoniyah, Hal : 162)

           Dan pertanyaan yang banyak terjadi di kota ketika perihal tempat memanggil (adzan) berada disamping gedung pemerintahan dengan memotong banyak ruas jalan umum, apakah yang demikian itu diperbolehkan, dan apakah termasuk kemaslahatan umum umat Islam sehingga menjadi kewajiban bagi Imam dan orang kaya muslim atau tidak ?
         Jawabannya adalah: Bahwa yang jelas itu merupakan kewajiban Imam, dan ia wajib dalam pengelolaannya menggunakan uang kas negara. Jika yang kemudian itu tidak memungkinkan karena kadhaliman penguasanya, maka kewajiban itu berlaih kepada orang kaya-kaya muslim.
(Khasyiyah Sibromilitsi ‘Ala Nihayah, Juz 5, Hal : 343)

No comments:

Post a Comment