Monday, 22 September 2014

Hukum Shalat Tasbih, Witir Berjamaah



Hukum Shalat Tasbih, Witir Berjamaah


Hukum Shalat Tasbih, hukum shalat Witir Berjamaah, hukum shalat sunah berjamaah, shalat sunah berjamaah, hukum berjamaah, hukum shalat berjamaah


Sebagian masyarakat melakukan shalat tasbih, witir dengan berjamaah.
Bagaimanakah hukumnya dalam pandangan Islam ?

Jawaban :
Diperbolehkan berjamaah pada shalat sunah semacam witir dan tasybih, dalam hal ini tidak dimakruhkan dan huga tidak berpahala, jika tidak disertai dengan sesuatu yang dikhawatirkan seperti mengganggu atau timbulnya keyakinan dikalangan masyarakat umum tentang disyariatkannya jamaah tersebut, maka tidak berpahala dan bahkan haram yang harus dilarang.

(Sumber : Bughyah Al-Mustarsyidin, Hal : 67)

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i diTanya: Sahkah shalat witir berjamaah? Apa dalilnya?

Beliau menjawab:

Shalat witir secara berjamaah hukumnya sah. Hanya saja yang biasa dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sendirian. Akan tetapi, suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dan ikut shalat bersamanya Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Seperti yang dikisahkan dalam Ash-Shahihain dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ketika itu Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma ingin berdiri di sisi kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membalikkannya ke sisi kanan. Inilah dalil tentang bolehnya (shalat witir berjama’ah).

Pada suatu malam di bulan Ramadhan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sendiri, kemudian para shahabat melihatnya. Mereka pun shalat bermakmum di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian pada malam berikutnya jamaah bertambah banyak, dan begitu pula pada malam ketiga. Kemudian beliau pun meninggalkannya. Kisah ini terdapat dalam Ash-Shahihain.

Disebutkan dalam Jami’ At-Tirmidzi dari hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu malam mengimami shahabatnya dan mereka pun shalat bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam alangkah baiknya apabila engkau menambahkannya untuk kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa shalat bersama imam akan ditulis baginya shalat semalam penuh.”

Kemudian beliau mengimami mereka kembali pada malam kedua sampai-sampai dikatakan, “Kami khawatir tidak mendapatkan ‘al-falah’ kemudian dikatakan, “Tahukah kalian apa itu ‘al-falah’? ‘Al-falah’ adalah sahur.” Ini adalah dalil bolehnya shalat nafilah berjamaah. Namun saudaraku sekalian, bukan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya berjamaah. Tidak sebaiknya ini menjadi kebiasaan seseorang. Apabila shalat sesekali berjamaah maka boleh baginya. Dan jika ia melakukannya sendirian, maka ini lebih utama baginya. Insya Allah.

Sumber: Tanya Jawab Bersama Syaikh Muqbil, penerjemah Al-Ustadz Ja’far Shalih Abu Muqbil Ahmad Yuswaji, Lc. Penerbit Pustaka Salafiyah, Banyumas. Hal. 164-165.

No comments:

Post a Comment