Thursday, 11 September 2014

Lihatlah Dunia, Wahai Anakku Tercinta



Lihatlah Dunia, Wahai Anakku Tercinta

lihatlah dunia wahai anakku, kisah anak dan ibu, kisah inspiratif, kisah inspirasi islam, kumpulan kisah inspirasi islami, daftar kisah inspirasi islami
Al-kisah, hiduplah seorang ibu dengan seorang anak laki-lakinya. Ibu itu sangat menyayangi anaknya dan selalu menjaganya baik-baik. Pikiran dan upayanya dikerahkan demi kebahagiaan anaknya. Karena itulah, ibu tersebut rela membanting tulang dengan bekerja sebagai buruh cucian demi memenuhi kebutuhan hidup anaknya. Sering ibu yang hamper tua itu tidak makan karena jatah makannya hanya cukup untuk anak tercinta.
Meskipun wanita ini memiliki satu kekurangan fisik, yaitu satu matanya buta, namun ia tetap semangat dalam bekerja dan mencari nafkah demi kehidupan anaknya. Tahun demi tahun pun berlalu, dan kini si anak pun telah besar dan mulai masuk sekolah, Tapi anak itu selalu menolak. Anak itu seperti malu jika teman-temannya melihat keadaan ibunya yang buta sebelah.
Suatu hari sang ibu nekat berangkat ke sekolah anaknya. Wanita baik itu ingin melihat bagaimana anaknya belajar. Sesampainya disekolah, tiba-tiba si anak dating menghampirinya. Bukan menyambut dengan baik, anak itu justru memarahi ibunya dan langsung mengajak pulang. Sesampainya dirumah, anak itu membentak ibunya dan melarang untuk datang kembali kesekolah. Rupanya, ia malu karena mempunyai ibu bermata satu. Meskipun sang ibu sangat sedih mendengar kata-kata anaknya, tapi sama sekali tidak timbul dendam da dalam hatinya. Cintanya kepada anaknya begitu tulus dan tidak bisa dikalahkan oleh perlakuan kasar anaknya.
Tahun demi tahun pun berlalu, kini si anak telah beranjak menjadi pria dewasa. Ia pun memutuskan untuk merantau ke kota yang jauh. Bertahun-tahun lamaya anak itu tak pernah kembali. Dari seorang sanak saudara, si ibu mendapatkan kabar bahwa anaknyabtelah menjadi orang sukses dan telah berkeluarga di kota di seberang lautan. Saat itu, kerinduan sang ibu sudah tak tertahankan lagi, ia memutuskan untuk pergi menyusul anaknya.
Dengan perbekalan seadanya, berangkatlah sang ibu menemui anaknya. Ribuan kilometer ia tempuh sendirian demi memuaskan rasa rindunyayang tak tertahankan kepada anak satu-satunya. Ketika sampai dirumah sang anak, si ibu kembali menghadapi kenyataan pahit. Bukannya sapaan dan sambuta hangat dari sang anak, tetapi justru dicaci maki dan diusir.
“Mengapa engkau datang kesini? Pergilah! Aku tak sudi mempunyai ibu bermata satu. Kau membuat anak-anakku takut,” bentak anaknya.
Sang ibu tentu sangat sakit mendengar kata-kata kasar tersebut keluar dari mulut anaknya sendiri. Bagaimana tidak, segala pengorbanan yang telah ia lakukan demi membahagiakan anak satu kesayangannya ternyata dibalas dengan cacian dan makian. Sambil menangis, wanita tua itu melangkah pergi dari rumah anaknya yang pintunya kini tertutup rapat itu. Ia harus rela hanya bisa melihat pagar rumah milik anak dan cucunya itu.
Bertahun-tahun kemudian, sang ibu mengalami sakit yang sangat parah. Sebelum menutup mata untuk yang terakhir kalinya, ia ingin sekali bertemu denga anaknya. Berkali-kali wanita itu mengirimkan surat kepada anaknya, tapi tidak pernah dibalas. Pernah juga ia meminta kerabatnya untuk mengunjungi anaknya agar mau menjenguknya. Tetapi, anaknya selalu menolak dengan alasan masih sibuk dengan pekerjaan.
Sebenarnya, istri anak laki-laki itu juga pernah bertanya kepada suaminya. “Mengapa engkau tidak mau menjenguk ibumu?” Tapi, pertanyaan itu dijawab dengan nada ketus. “Aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku sibuk!” Tetapi, si istri tidak mau menyerah. Sebagai seorang wanita, ia merasakan betul naluri seorang ibu terhadap anaknya. Akhirnya, karena dengan desakan istrinya, si anak laki-laki itupun mau menjenguk ibunya.
Berangkatlah si anak ke kampong halamannya. Tapi, ia sudah terlambat. Sang ibu telah meninggal. Hanya secarik kertas yang ia temukan di lemari dimana ibunya biasa menyimpan uang. Surat itu ternyata berisi wasiat terakhir ibunya.

Wahai anakku, aku sungguh bahagia melihatmu bertumbuh dari kecil hingga dewasa, sampai akhirnya kamu menikah dan bisa sukses. Ketahuilah, wahai anakku, bahwa ketika engkau lahir, engkau hanya bisa melihat dengan satu mata. Aku telah relakan satu mataku untukmua agar engkau bahagia nantinya.”

         Betapa kagetnya anak itu. Ternyata, satu matanya adalah pemberian dari ibunya yang dengan ikhlas berkorban untuk kebahagiaannya. Detik itu juga si anak laki-laki itu menangis dan tersungkur meraung-raung di lantai. Dalam hati, ia mengutuki segala kejahatan dan keburukan yang telah ia lakukan kepada ibunya sendiri. Ia benar-benar telah menjadi anak yang durhaka karena tidak mengakui segala pengorbanan yang telah dilakukan ibunya.

***

                Masihkan kita merasa malu denga kekurangan dari orang tua, terutama ibu kita? Sungguh, sangat durhaka anak yang mencampakkan ibunya sendiri. Ibu yang telah merawat dan membesarkan kita dengan segenap pengorbanan. Ingatlah ungkapapn yang mengatakan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Pepatah itu memang benar adanya.

Semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

No comments:

Post a Comment