Friday, 3 October 2014

Melakukan Tari-Tarian Dan Joget Dengan Lenggak-Lenggok

Melakukan Tari-Tarian Dan Joget Dengan Lenggak-Lenggok


hukum tarian dalam islam, hukum tarian dan joget dalam islam, hukum joget, hukum dansa, tarian jawa, tarian modern, tarian zaman sekarang, joget bang jali, hukum melakukan tarian dan joget dengan lenggak-lenggok dalam islam

Bagaimana hukum melakukan tari-tarian dan joget dengan lenggak-lenggok dalam pandangan islam ?

Jawaban :
Kami akan menyebutkan perbedaan para ulama tentang tari-tarian, sebagian ada yang memakruhkan seperti Imam Qoufal dan Al-Rauyani dalam kitab Al-Bahr, demikian halnya dengan ustadz Abu Mansur, memaksakan tarian agar bisa serasi dengan irama, itu hukumnya makruh, mereka berargumen bahwa, nyanyian itu termasuk “permainan dan sendau gurau” yang dimakruhkan.

Sebagian Ulama yang lain berpendapat, bahwa tarian itu hukumnya mubah menurut Al-Fauroni dalam kitab Al-Umdah, nyanyian itu pada dasarnya mubah demikian pula bermain drum, tarian dan yang sejenisnya.

Menurut Imam Al-Haromain, tarian itu tidak haram karena hanya sekedar olah gerak lurus dan goyang, akan tetapi jika terlalu banyak, maka bisa menyebabkan kerusakan kehormatan diri. Pendapat ini senada dengan Al-Mahalli dalam kitab Al-Dakhr, Ibnu Al-‘Imad Al-Syahrowardi, Imam Rofi’i pengarang kitab Al-Wasith dan Ibnu Abi Dam. Mereka berargumen dengan dua hal, yaitu Hadits dan Qiyas.
Adapun Hadits adalah sebagaimana yang telah lalu dari Hadits ‘Aisyah tentang tarian orang-orang Habsyi, demikian pula dengan Hadits ‘Ali tentang gerak lompatnya, serta yang dilakukan oleh Ja’far dan Zaid.
Adapun Qiyasnya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Haromain, yakni merupakan olah gerak lurus dan bergoyang, sama dengan gerak-gerakan yang lainnya.

Menurut sebagian Ulama bahwa tarian itu harus diperinci. Jika dalam tarian itu ada unsur goyang dan cenderung menimbulkan kerusakan, maka hukumnya makruh. Jika unsur tersebut tidak ada, maka tarian itu boleh. Inilah yang dikutip oleh Ibnu Abi Dam dari Syekh Abu Ali bin Abu Hurairah.

Al-Halimi juga mengutip seperti itu dalam kitab manhajnya, mereka berargumen bahwa dalam tarian itu ada kecenderungan untuk bergaya perempuan, padahal orang yang berpura-pura dan bergaya perempuan itu telah dilaknat. Kelompok ulama lain berpendapat, bahwa tarian yang mengandung unsur goyang dan cenderung menimbulkan kerusakan, itu hukumnya haram. Jika Unsur  tersebut tidak ada, maka hukumnya tidak haram.
Demikian yang disampaikan Imam Rofi’i dalam kita b Syarah Al-Shoghir dan beliau meriwayatkan setatemen diatas dalam Syarah Al-Kabir dari Imam Al-Halimi. Dan Al-Jiili meriwayatkan setatemen tersebut dalam kitab Al-Muharrar.

No comments:

Post a Comment